Tokoh Pemuda Kingmi Sesalkan Kekerasan di Kapiraya: Hamba Tuhan Jadi Korban

NABIRE, REPUBLIKTERKINI |Salah satu tokoh pemuda Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua, Esau Tatogo, S.Hut., menyampaikan duka mendalam dan keprihatinan atas pembunuhan Pdt. Neles Peuki dalam insiden kekerasan di Kampung Mogodagi, Distrik Kapiraya, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah.

Esau mengatakan, sebagai anak yang lahir dan besar dalam lingkungan gereja Kingmi, peristiwa ini sangat melukai hati jemaat serta seluruh keluarga besar pelayanan gereja. Menurutnya, Pdt. Neles Peuki adalah seorang koordinator pelayanan yang diutus khusus untuk melayani jemaat Kingmi di wilayah Kapiraya.

“Beliau bukan orang yang datang untuk berkonflik. Beliau datang untuk melayani, membangun iman, dan menguatkan jemaat. Tindakan kekerasan terhadap hamba Tuhan seperti ini sangat kami sesalkan,” ujarnya Esau di awak media, Sabtu, (29/11/25)

Ia menegaskan bahwa hamba Tuhan memikul misi gereja untuk membawa kabar baik, mendampingi masyarakat, dan menjadi penolong di tengah situasi sosial yang sering kali penuh tantangan. Karena itu, tindakan kekerasan yang menewaskan pelayan Injil tidak dapat dibenarkan dalam alasan apa pun.

Menurut Esau, masyarakat Papua sedang menghadapi berbagai persoalan berat, namun kejadian seperti ini justru menambah luka baru. Ia berharap agar pemerintah daerah, aparat keamanan, dan para pemangku kepentingan segera mengambil langkah konkrit untuk menghentikan rantai kekerasan.

“Kami minta pemerintah hadir dengan tegas. Jangan biarkan peristiwa seperti ini terus berulang. Nyawa hamba Tuhan tidak boleh menjadi korban dari konflik yang tidak jelas arahnya,” tegasnya.

Esau juga mendorong agar kasus ini segera diusut tuntas hingga para pelaku diproses hukum. Ia mengingatkan bahwa keluarga korban dan jemaat Kingmi membutuhkan kepastian keadilan dan ruang pemulihan.

“Ini bukan hanya persoalan satu gereja, tetapi persoalan kemanusiaan. Kami mendesak agar pelakunya ditangkap dan diproses. Hukum harus berjalan,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Esau mengajak seluruh jemaat dan masyarakat Papua untuk tetap tenang, tidak membalas dengan kekerasan, serta menyerahkan penanganan kasus ini kepada proses hukum yang berlaku.

“Kami percaya kekerasan tidak menyelesaikan apa-apa. Gereja tetap mengajarkan damai. Biarlah proses hukum yang menjawab keadilan bagi keluarga korban,” tutupnya. (DAM)

Related posts