REPUBLIKTERKINI.COM |Paniai – Dua hari tepi Kali Yawei bergemuruh bukan oleh arus, melainkan oleh lautan manusia. Penggalangan dana Gereja Katolik St. Paulus Keniapa, Paroki Santo Yoseph Enarotali, Dekenat Paniai, resmi ditutup Jumat, 8 April 2026, dengan sukacita yang tumpah dari wajah ribuan umat.
Di Kampung Keniapa, Distrik Yatamo, di sepanjang Jalan Raya Waghete–Enarotali, umat berkumpul. Bukan hanya dari satu stasi, melainkan dari Pugomoma, Udaugi, Utakotopa, dan gereja-gereja tetangga. Semua melebur dalam satu doa: membangun rumah Tuhan.
“Kami menggelar berbagai usaha dana ini sebagai wujud nyata cinta pada Gereja,” ucap Ruben Bunai, Ketua Panitia Pelaksana Koordinator Wilayah Yawei. Suaranya bergetar menahan haru melihat kebersamaan itu.
Sejak Kamis, 7 April, hingga penutupan Jumat, 8 April, lapangan tak pernah sepi. Lelang Ebamukai, alas tikar yang menjadi simbol persatuan, bergantian dengan canda tawa di bazar, turnamen voli, dan warung nasi ayam.
“Yang datang ke sini bukan sekadar memberi, tapi merayakan persaudaraan,” tutur Mesak Mote, Ketua Penanggung Jawab Kegiatan. “Dari banyak stasi, paroki, dekenat, bahkan saudara dari denominasi lain, semua datang dengan hati.”
Yulius Bunai, Koordinator Umum Keamanan Wilayah Yawei, menatap lapangan yang penuh sesak dengan lega. “Aman, meriah, penuh sukacita. Inilah wajah gereja yang hidup. Lautan manusia ini bukti bahwa kita satu.”
Dan ketika semua dihitung, kasih itu berwujud angka: Rp 122. 260.000 Seratus juta dua puluh dua juta Enam ratus enam puluh ribu terkumpul dari lelang Ebamukai, sumbangan stasi, kombas, paguyuban, dan uluran tangan gereja-gereja sahabat.
Di tepian Yawei hari itu, bukan hanya dana yang terkumpul. Iman diteguhkan, persaudaraan dirajut, dan harapan untuk Gereja St. Paulus Keniapa kembali menyala. (Penulis: Jeri P. Degei)
![]()







